Brahmacari - Long Life Education - Catur Asrama
Daftar Isi

Brahmacari, "Long Life Education"
Masyarakat Hindu yang menekuni ajaran dharma tidak asing
lagi dengan konsep Catur Asrama, empat tahapan kehidupan yang harus dilalui.
Ada Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta dan Sanyasin. Dalam konteks kekinian,
Brahmacari banyak mendapat perhatian. Brahmacari merupakan dasar penciptaan
manusia yang berkualitas, sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Bagaimana
seharusnya kita memahami dan menjalani Brahmacari ini?
Pada awalnya, Catur Asrama banyak berhubungan dengan dunia
kependetaan. Pembagiannya pun sama. Ada Wiku Brahmacari (pendeta yang tidak
menikah), Wiku Grahasta (pendeta yang berumah tangga), Wiku Wanaprasta (pendeta
yang tinggal menyepi di hutan) dan Wiku Sanyasin (pendeta yang mengembara).
"Raja-raja pada zaman dahulu berusaha menciptakan
suasana yang kondusif agar pendeta-pendeta itu bisa memberi getaran atau
vibrasi spiritual bagi wilayahnya". Bahkan, rakyat juga ikut berlomba-lomba
memberikan makanan bagi Wiku Sanyasin. Mereka percaya dengan adanya pendeta
yang mengembara dan sampai ke wilayahnya, tentu mereka akan memperoleh kekuatan
spiritual dan bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka.
Berikutnya dalam konteks kehidupan masyarakat Bali, Catur
Asrama juga disusun sedemikian rupa. Ini bisa kita temui dalam desa pakraman
atau desa pasraman. Brahmacari identik dengan sekaa teruna, grahasta identik
dengan krama banjar, wanaprasta identik dengan penglingsir, dan Sanyasin
identik dengan pendeta atau mereka yang nukuhin (tinggal di dukuh atau luar
desa untuk menyepi).
Dicontohkan, adalah pemberian nama pada seseorang yang
berada di desa parkraman tersebut. I Anu untuk Brahmacari, Pan Anu atau Ajin
Anu untuk Grahasta, Pekak Anu atau Kakiang Anu untuk Wanaprasta dan pendeta
atau begawan untuk Sanyasin. "Untuk yang nukuhin malah tidak dikenai
urunan di banjar, mereka bebas dari tanggung jawab banjar."
Untuk sekaa teruna, diharapkan benar-benar dibina agar bisa
menjadi generasi penerus krama banjar. Penguasaan estetika oleh generasi muda
sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat nantinya. Budaya malu yang harus
dimiliki generasi muda itu. Jangan malu untuk belajar dan isilah waktu untuk
belajar daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, seperti
nongkrong di pinggir jalan atau mabuk-mabukan.
Masih dalam tataran konsep, dijelaskan juga adanya hubungan
yang erat antarkeempat bagian dari Catur Asrama ini. Taki takining sewaka guna
widya (mulai mencari keterampilan dan pengetahuan) adalah brahmacari, ruang
puluhing ayuse semara wisaya (melakukan pernikahan setelah berusia 20 tahun ke
atas) adalah grahasta, tengahing tuwuh sanwacana gegonta (tengah umur tekun
mempelajari kitab suci) adalah wanaprasta dan patilaring atmeng tanu paguruaken
(melepas atma dari badan harus dipelajari lewat guru) adalah Sanyasin.
"Keempat hal
ini memiliki suatu benang merah, yakni belajar seumur hidup (long life
education),"
Masa paling Sulit
Ditambahkannya, masa grahasta merupakan masa yang paling
sulit. Alasannya adalah saat memasuki masa ini kita harus bisa membagi kapan
mencari artha, kapan melepaskan artha tersebut dan kapan kita harus
menyimpannya. Menyimpan dalam hal ini bukan semata dalam bentuk kongkret, bisa
saja dalam bentuk abstrak. Menolong tetangga yang kesusahan bisa dikategorikan
menyimpan artha dalam arti abstrak sebagai investasi di dunia sana.
Berkaitan dengan artha ini, Catur Asrama bertalian erat
dengan Catur Purusa Artha;
Brahmacari bertujuan mencari dharma, Grahasta bertujuan
mencari artha dan kama, Wanaprasta dan Sanyasin bertujuan mencari moksa.
Dalam tahapan Brahmacarilah waktu yang benar-benar digunakan
untuk mencari pengetahuan dan keterampilan, untuk meningkatkan kualitas diri.
Konsep brahmacari merupakan konsep yang sangat ideal.
Brahmacari adalah saat yang harus benar-benar kita
manfaatkan sebelum kita menapaki tahapan berikutnya. Namun, walaupun konsepnya
ideal, dalam pelaksanaan di lapangan, sepertinya tidak bisa berjalan dengan
sempurna.
Baca Juga: loading
Contohnya: banyak anak muda sekarang yang harus menjalani
kehidupan grahasta (berumah tangga) padahal masa brahmacari mereka masih
berlangsung.
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau ini terjadi?
"Sistem dan lingkungan" jawabanya.
Tak hanya itu, keluarga juga dianggap memiliki peran
penting. Sering terjadi, keluarga yang orangtuanya sibuk, pendidikan anaknya
menjadi telantar ditambah lagi pengaruh lingkungan yang kurang baik menyebabkan
anak menjadi liar dan bebas. "Masa muda adalah masa belajar, masa mencari
pengetahuan"
Disiplin merupakan kata kunci yang juga harus ditekankan.
Kalau sudah bisa mendisplinkan diri dalam memahami tahapan-tahapan kehidupan,
tentu semua akan berjalan lancar. Selain itu, evaluasi juga perlu mendapat
porsi. Dengan mendisiplinkan diri dan melakukan evaluasi, tentu konsep
brahmacari yang ideal ini bisa terwujudkan.
kalau diibaratkan, manusia sebagai ilalang. "Saat muda,
kita ibarat daun ilalang yang tajam dan saat daun ilalang itu tua, dia
dijadikan atap yang melindungi." Di Bali sendiri sudah mengenal adanya
upacara menek kelih yakni saat anak beranjak remaja menuju dewasa. Tetapi
sangat disayangkan makna dari upacara ini sering tidak dipahami. Habis upacara
selesai, ya... sudah selesai.
Lingkungan pun ternyata memberi pengaruh yang sangat besar
bagi perkembangan anak-anak yang mulai tumbuh remaja. Kalau iman dan moral
mereka tidak kuat, bisa mubazir diadakannya upacara menek kelih tersebut.
Sebagai contoh adalah anak-anak muda sekarang yang gemar bermain play station
(PS) atau biliar. Mereka mengaku berangkat dari rumah mau ke sekolah, lengkap
dengan pakaian sekolahnya, tetapi di jalan mereka "belok" ke arah tempat
permainan PS dan biliar. "Ini kan sangat disayangkan, manfaatkanlah masa
belajar dengan baik."
Kita harus sama-sama menyadari ini merupakan tugas semua
komponen. Pemerintah, sekolah, masyarakat, keluarga dan individu itu sendiri.
Kalau tidak ada kerja sama tentu sulit untuk menemukan akar permasalahannya.
"Kerja sama ini juga harus sporadis dengan inti teladannya adalah
keluarga," kata Windhu. Sementara sekolah juga jangan terlalu memberatkan
anak-anak dengan berbagai macam pelajaran. Dia menyarankan cukup tiga saja yang
diutamakan yakni matematika, bahasa dan filsafat atau logika.
Bagi institusi-institusi keagamaan juga diharapkan lebih
memantapkan pendalaman Sradha bagi generasi muda. Pemerintah pun diharapkan
bisa memberikan beasiswa bagi kelangsungan pendidikan generasi muda.
"Peran dan perhatian pemerintah juga harus lebih meningkat untuk
memperhatikan pendidikan, jangan hanya sibuk mengurusi politik saja".
Siapa pun yang memegang kekuasaan harus bisa membangun
kesadaran pendidikan ini!
Perlu diberi acungan jempol bagi mereka yang saat masa
brahmacari harus menikah mau melanjutkan sekolahnya. Masih ada kemauan mereka
untuk belajar dan masih ada sekolah yang mau memberikan perhatian. Karena itu,
ia berpesan, manfaatkanlah masa brahmacari sebaik-baiknya demi kehidupan di
masa depan. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Sumber : cakepane.blogspot.com
Sumber : cakepane.blogspot.com