Pedoman Sembahyang, Persiapan Dalam Agama Hindu
Daftar Isi

Persiapan Sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan
batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan
sikap tangan.
Demikian pula persiapan sarana penunjang sembahyang seperti
pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian
pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai
berikut:
- Asuci laksana : Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati
- Pakaian : Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat atau longgar, warna yang menyolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta setempat, supaya tidak menarik perhatian orang.
- Bunga dan kawangen : Bunga dan kawangen adalah lambang kesucian, supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen dapat diganti dengan bunga.
- Dupa : Apinya dupa adalah simbul Sang Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sang Hyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya dupa ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman kita di sekitar kita. Selesai persembahyangan sebaiknya dupa dipadamkan dan dibuang.
- Tempat Duduk : Tempat duduk hendaknya diusahakan tempat duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak mengganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar mempergunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya
- Sikap duduk : Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik untuk pria ialah sikap padmasana yaitu sikap duduk bersila dan badan tegak lurus. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.
- Sikap tangan : Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah cakup ing kara kalih yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari.
Bunga (puspa)
Bunga dan kawangen adalah lambang kesucian. Sebagai sarana
sembahyang, kita memerlukan yang terbaik, yaitu bunga yang segar, bersih dan
harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen dapat diganti dengan
bunga.
Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut
Agastyaparwa bunga tersebut adalah yang seperti berikut:
nihan
ikang kembang tan yogya pujakena ring bhatara: kembang uleren, kembang ruru tan
inunduh, kembang laywan-laywan ngara- nya alewas sekar-kembang munggah ring
sema, nahan ta lwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika.
Baca Juga: loading
Artinya:
Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara,
bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa diguncang, bunga yang berisi semut,
bunga yang layu yaitu yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan.
Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang baik-baik
Kewangen.
Kewangen adalah nama salah satu sarana sembabyang, Kewangen
dibuat dari daun pisang atau janur yang berbentuk kojong. Di dalamnya diisi
perlengkapan berupa daun-daunan, hiasan dari rangkaian janur yang disebut
sampian kewangen, bunga, uang kepeng dan porosan yang disebut silih asih.
Adapun yang dimaksud dengan porosan silih asih adalah dua potong daun sirih yang
diisi kapur dan pinang, diatur sedemikian rupa sehingga bila digulung akan
tampak bolak-balik, yaitu yang satu potong tampak bagian perutnya dan satu
bagian lagi tampak bagian punggungnya.
Dalam persembahyangan kewangen dipakai menyembah Ista
Dewata. Yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut
untuk menerima persembahan atau bakti pemujanya. Karena kewangen itu simbul
Tuhan maka cara pemakaiannya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen
berhadapan muka dengan penyembahnya. Hal ini dimaksudkan agar antara yang
menyembah dengan yang disembah berhadap-hadapan. Yang merupakan muka kewangen
ialah bagian letak uang kepengnya. Bila uang kepeng sulit didapat diganti
dengan uang logam.
Sumber : cakepane.blogspot.com
Sumber : cakepane.blogspot.com